PERAN IBU DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK


Nama : Siti Aminah

NIM : 12201125

Mata Kuliah : Pendidikan Karakter

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Rianawati, M.Ag

Asisten Dosen : Tri Wibowo, M.Pd

 Dalam memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis anak, keluarga memegang kedudukan pertama dalam pendidikan. Anak sebagai pewaris budaya keluarganya tentu memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik terutama dalam aspek moral, sehingga kelak anak dapat menjalani kehidupannya dengan baik di lingkungan masyarakat. Anak cenderung meniru apa yang ia terima dari sekitarnya. Maka dari itu, tumbuh dan kembang seorang anak berada di dalam lingkungan keluarga. Kepribadian anak sangat bergantung dan dipengaruhi oleh pendidikan yang diterapkan terutama di dalam rumah. Demi keberhasilan membentuk karakter yang baik pada anak, keluarga harus menjalin hubungan yang harmonis dan bahagia. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Islam yang dijelaskan dalam Q.S ar-Rum ayat 21: 


وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ 


Artinya: “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”.

 Sebelum memasuki dunia pendidikan formal di sekolah, secara alamiah anak terlebih dahulu menerima pendidikan di rumah. Saat baru lahir, anak diibaratkan selayaknya kertas putih tanpa noda, dan orang tua adalah orang yang pertama kali menuliskan di atasnya. Dalam hal ini, selain ayah dan anggota keluarga lainnya, Ibu merupakan tokoh utama dalam menentukan karakter anak. Secara emosional Ibu adalah sosok yang paling dekat dengan anak. Seorang Ibu secara alamiah melakukan pengasuhan pada anaknya dimulai sejak anak lahir, diajak belajar bicara, berjalan, ataupun meniru sesuatu yang ada di sekitarnya, tentu sangat memberikan kesan karena hal tersebut diberikan dengan ketulusan dan kasih sayang. Ibu mempunyai peranan yang sangat besar dalam mempengaruhi kehidupan dan perilaku anak. Kedudukan dan fungsi ibu itu bersifat fundamental, karena ibu merupakan wadah pembentukan watak dan ahlak pertama bagi anak. (Abdul Wahab 2015 dalam Adiyana Adam 2019:147).

 Sebagai madrasatul ula, seorang Ibu wajib memperkenalkan anaknya kepada Sang Pencipta dan Rasul-Nya. Pendidikan karakter pada anak usia dini lebih difokuskan pada habbit (kebiasaan). Pengenalan kepada Allah terhadap anak dapat dilakukan melalui cara sederhana, yaitu dengan mengajarkannya tentang hal yang baik dan tidak baik, mengajarkannya do’a-do’a pendek, ataupun melalui bentuk ciptaan Allah yang dia kagumi, misalnya seperti hewan ataupun benda lain yang ada di sekitarnya. Adapun pengenalan terhadap Rasul dapat dilakukan dengan menceritakan kisahnya, memotivasi anak untuk menjadikannya sebagai panutan, dan ajarkan kepadaya sunnah-sunnah nabi seperti makan dengan tangan kanan. Pada tahap selanjutnya adalah menanamkan pada anak mengenai perilaku yang boleh dan tidak boleh ia lakukan serta konsekuensinya, sehingga anak akan lebih memahami dan merasakan nilai yang baik di dalamnya untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu hal tersebut memberikan dukungan terhadap perkembangan kognitif dan afektif pada anak.

 Selain itu, seorang Ibu harus mampu mengenali potensi diri pada anak supaya dapat menanamkan pendidikan karakter dengan strategi yang efektif agar anak dapat menerima secara optimal. Jika ditemukan anak yang melakukan penyimpangan seperti sering marah-marah atau mengganggu orang lain, maka orang tua harus merefleksi dan intropeksi diri apakah metode pendidikan karakter yang diterapkan pada anak belum tepat. Oleh karena itu, mengetahui potensi anak sangat penting bagi orang tua, caranya adalah dengan melakukan pendekatan pada anak. Seorang Ibu juga menjadi tempat bercurah hati bagi anak. Anak boleh mengutarakan keluh kesah, suka maupun duka dengan ibunya. Menjadi Ibu memanglah tidak mudah. Bagi seorang anak, Ibu adalah dunianya, begitupun sebaliknya. Bagaimana anak akan menjalani kehidupan dengan baik jika tidak ada Ibu? Hal tersebut dikuatkan dengan sabda Rasulullah:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ رواه البخاري ومسلم


Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, "Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi SAW menjawab, 'Ibumu!' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi SAW menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi SAW menjawab, 'Kemuidan ayahmu.” (HR Bukhari dan Muslim).

 Hal tersebut bukan berarti kedudukan ayah tidak penting, melainkan melihat bagaimana mulianya peran seorang Ibu bagi keluarga terutama pada anaknya. Maka beruntunglah bagi seorang anak yang diberi karunia keluarga yang lengkap terutama adanya Ibu, adapun bagi seseorang yang kurang beruntung dalam hal ini, maka dia adalah orang yang hebat dan patut kita jadikan ibrah untuk terus berbaikti kepada orang tua tidak hanya saat membersamai, tetapi juga ketika orang tua sudah menghadap-Nya. Sebagai orang tua yang baik kita juga harus mengajarkan anak kepada hal tersebut sebagai bekal di masa depannya apabila kita sudah tidak disampingnya. Karena salah satu amalan yang akan terus mengalir pahalanya adalah anak yang sholeh. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:


إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ – رواه مسلم والترمذيّ وأبو داود والنسائيّ وابن حبّان عن أبي هريرة  

 

“Ketika seorang manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mau mendoakannya. Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam at-Tirmidzi, Imam Abu Dawud, Imam an-Nasa`i, dan Imam Ibnu Hibban bersumber dari Sayyidina Abu Hurairah ra”.

 Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, semua amal manusia pasti terputus manakala ia meninggal dunia. Sedangkan tiga hal yang disebutkan dalam hadits tersebut akan tetap mengalir pahalanya karena pelakunya adalah penyebab terjadinya ketiga hal itu. (Mahlail Syakur Sf, 2022). Hal tersebut harus diimbangi dengan akhlak dan ilmu yang kita miliki. Orang tua adalah panutan bagi anaknya, jika ingin anak berperilaku baik, maka tanamkan terlebih dahulu pada diri kita untuk mencontohkan perilaku yang baik pada anak.

 Orang tua merupakan sebagai fasilitator bagi anak dalam memenuhi berbagai kebutuhannya secara materi maupun moral. Anak memiliki hak untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya secara primer maupun sekunder, dalam hal ini terutama pada aspek pendidikan. Seorang perempuan selain berperan sebagai Ibu, juga berperan sebagai istri, yaitu harus mendukung suami dalam memberikan nafkah lahir maupun batin kepada keluarganya. Dengan begitu, kebutuhan fisik dan psikis anak akan terpenuhi dengan baik.

 Terdapat beberapa karakter yang dapat diterapkan pada anak:

Disiplin, misalnya disiplin waktu dengan mengajarkan anak untuk membagi waktunya kapan ia harus beribadah, belajar, dan bermain.

Jujur, dapat diterapkan melalui bagaimana ia berani mengakui ketika berbuat salah.

Berani. Ibu dapat memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplor hal yang ingin diketahuinya dan bagaimana ia menerima konsekuensinya

Tanggung jawab. Anak harus diajarkan untuk melakukan kewajibannya seperti sholat 5 waktu ataupun sikat gigi malam sebelum tidur.

Sopan santun. Ibu dapat mengajarkan anak tentang bagaimana ia harus bersikap yang baik terhadap orang tua, saudara, anggota keluarga yang lainnya, terhadap teman sebaya, maupun dengan tetangga dan masyarakat sekitar.


REFERENSI

Adam, A. (2019). Peran Ibu Dalam Pembentukan Karakter Anak. Jurnal Kajian Perempuan, Gender dan Agama, 143-144, 147, 151.

Maharani, B. (2023). 5 Hadis Tentang Ibu, Jelaskan Pentingnya Berbakti dan Jangan Durhaka. detik hikmah.

Rivadah, M. d. (2020). Figur Orang Tua dalam Pendidikan Karakter Anak. Jurnal Pendi

dikan Islam dan Keguruan, 146.

Komentar