PERAN GURU MEMBENTUK KELAS BERKARAKTER PADA PESERTA DIDIK SDN 03 PENJAWAAN
Refleksi selama mengikuti mata kuliah pendidkan karakter membuat ketertarikan untuk membahas topik yang erat kaitanya dengan ’PERAN GURU MEMBENTUK KELAS BERKARAKTER PADA PESERTA DIDIK SDN 03 PENJAWAAN“ Peran guru dalam membentuk kelas bekarakter yaitu sangat membantu sebagai teladan, motivator,dan fasilitator yang menanamkan nilai-nilai kejujuran, displin, religius, dan tanggung jawab bagi peserta didik. Menurut etimologinya, karakter berasal dari kata "karakter" dalam bahasa Inggris dan kata "charassein" dalam bahasa Yunani, yang berarti ukir hingga pola terbentuk namun karakter juga dapat di pahami sebagai perilaku moral pribadikarena mendidik anak agar mempunyai karakter memerlukan proses “pembentukan” yaitu pengasuhan dan pendidikan yang tepat (Arniah et al, 2022 dalam jurnal Damayanti Diska dkk, 2024: 9897.) Cara terbaik untuk menanamkan prinsip karakter pada usia muda untuk menjadikan usiayang berkarakter dan dapat dipercaya adalah dengan membantu guru mengembangkan kepribadian siswa untuk memahami keluwesan mereka Pendidikan karakter juga merupakan upaya yang dilakukan secara sadar untuk mengubah dan mengembangkan perilaku yang lebih baik Oleh karena itu, untuk menjadi warga negara yang berharga di masa depan, anak-anak harus ditanamkan nilai-nilai luhur atau karakter sejak kecil.
Dengan minimnya pendidikan akidah akhlak di SDN 03 maka dari itu saya sebagai calon guru Pendidikan Agama Islam turut berkontribusi untuk mengajarkan akhlak dan moral kepada peserta didik dan menanamkan karakter yang baik agar negara kita dapat menumbuhkan generasi-generasi yang berpendidikan dan berakhlak moral, berbudi pekerti yang luhur.
Pada dasarnya, pendidikan moral ataupun akhlak ini mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi individu yang memiliki moral, terkait dengan diri sendiri, hubungan dengan sesama manusia, alam semesta, serta moralitas terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010 dalam jurnal Rukiyati, 2017:4). Pendidikan moral yang berkaitan dengan diri sendiri sangat penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai seperti kebersihan diri, kerajinan dalam belajar atau bekerja, ketekunan, dan disiplin waktu.
Pengembangan moral bertujuan untuk menjadikan individu lebih bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Hal ini dapat diperoleh melalui lingkungan keluarga serta lingkungan sekolah. Pendidikan moral di sekolah bertujuan agar peserta didik tidak hanya memperoleh kecerdasan intelektual, tetapi juga mengembangkan kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial sehingga dapat beradaptasi dengan baik dalam masyarakat dengan mengamalkan nilai-nilai dan norma, khususnya di era modernisasi seperti sekarang ini. Kita semua menyadari bahwa modernisasi telah menyentuh setiap aspek kehidupan manusia. Dengan adanya kemajuan teknologi informasi, manusia mendapatkan kemudahan untuk mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Namun, di sisi lain, hal ini juga dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan moral, terutama di kalangan peserta didik. Terjadinya degradasi moral di antara peserta didik sering kali diakibatkan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Nilai dan norma tidak terbentuk secara sengaja seperti hukum tertulis; sebaliknya, nilai dan norma berkembang sejalan dengan kebiasaan manusia. Meskipun kehidupan manusia diatur oleh norma, masalah sosial sering kali muncul. Perbedaan kepentingan, kebutuhan, kewenangan, kekuasaan, kemampuan, pola pikir, dan kepribadian yang bervariasi pada setiap individu dapat memicu terjadinya konflik, serta tindakan kejahatan bahkan kriminalitas. Oleh karena itu, pendidikan hadir sebagai salah satu pendekatan yang dipandang sebagai gerakan utama dalam penanaman moral kepada peserta didik.
Guru yang baik tentunya sangat penting untuk pengembangan moral yang baik pada siswa. Seperti yang dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv), sekolah berperan sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat yang berfokus pada demokrasi bertujuan untuk mengembangkan pemberdayaan diri dan sosial. Hal ini juga tercantum dalam Tujuan pendidikan menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional. Di samping itu, guru memiliki tanggung jawab untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan serta menanamkan akhlak yang mulia pada diri para peserta didik, Mengingat bahwa guru merupakan ujung tombak dalam membentuk moral yang baik pada diri peserta didik, maka penting bagi guru untuk terlebih dahulu memiliki moral yang baik. Dengan demikian, proses pendidikan moral yang dilakukan oleh guru akan lebih mudah diterima dan dicontohkan oleh para peserta didiknya.
Maka dari itu pentingnya peran guru untuk membentuk karakter peserta didik agar dapat menumbuhkan generasi-generasi bangsa yang berpendidikan bermoral dan berakhlak yang baik, Dan guru adalah Pilar Dasar Kehidupan tempat terlahirnya semua orang hebat.
Referensi:
Damayanti, Diska, Aulia Rahmaniatul, Raden Risma Fauziah, and Teguh Prasetyo. "Peran guru dalam Pembentukan karakter Siswa Sekolah Dasar Melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia." Karimah Tauhid 3, no. 9 (2024): 9896-9904.
Rukiyati, Rukiyati. "Pendidikan moral di sekolah." Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum 17, no. 1 (2017): 1-11.
Komentar
Posting Komentar